Showing posts with label Life. Show all posts
Showing posts with label Life. Show all posts

Thursday, June 21, 2012

A lingering dream


Bismillah...
Havent write for quite some time since I lost 'contact' with my lappy. Have done a lot of thinking with life. And the path I chose for the past 5 years. What have I achieved? What have I not achieved? Were those dreams I have eventually came true? Or just kept lingering in the air waiting for me to grab it? I don’t know. Truth is, I don't know..


Saturday, November 19, 2011

5 yang Terawal


Sudah berbulan-bulan lamanya saya tidak menulis. Petanda saya dihambat acara-acara langsung yang menggunakan masa-masa santai saya yang tidak dapat saya simpankan sedikit ruang pun untuk menulis. Bukan lah ibadah yang haq tapi satu ketagihan baru saya dalam online games yang agak melampau. Hehehe. Alasannya? Kerana keyboard laptop saya sudahpun rosak, ditekan A atau S maka akan terkeluarlah infiniti AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA........... dan hanya akan berhenti jika saya menghentak keyboard itu separuh tenaga saya. Lalu, saya kini bergantung sepenuhnya pada external keyboard Dell yang gabak dan akhirnya, aktiviti komputer saya akan saya terhadkan kepada penggunaan  mouse semaksima boleh, sebab itu online games menjadi pilihan utama saya kini. Pathethic. Saya tahu. :D lalu, tanpa idea yang banyak dan fikiran panjang untuk berkarya, saya ingin berkongsi satu kisah yang haq yang jarang2 sekali kita sedari atau ingati (sebagai seorang muslim)...kudos kepada penyampai yang berkongsikan sejarah ini pada saya bulan lalu. Semoga sedikit sebanyak berguna kepada antum sekalian untuk terus berjuang dalam rangka ibadah 42:13 ini..


As-Sabiqun al-Awwalun (Arab: السَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ) adalah orang-orang terdahulu yang pertama kali masuk/ memeluk Islam. Mereka adalah dari golongan kaum Muhajirin dan Anshar, mereka semua sewaktu masuk Islam berada di kota Mekkah, sekitar tahun 610 Masehi pada abad ke-7.
Mula-mula baginda melakukannya secara sembunyi-sembunyi di lingkungan keluarga, sahabat,pengasuh dan budaknya. Orang pertama yang menyambut dakwahnya adalah Khadijah, istrinya. Dialah yang pertama kali masuk Islam. Menyusul setelah itu adalah Ali bin Abi Thalib, saudara sepupunya yang kala itu baru berumur 10 tahun, sehingga Ali menjadi lelaki pertama yang masuk Islam.Kemudian Abu Bakar, sahabat karibnya sejak masa kanak-kanak. Baru kemudian diikuti oleh Zaid bin Haritsah, bekas budak yang telah menjadi anak angkatnya,dan Ummu Aiman, pengasuh Muhammad sejak ibunya masih hidup. Setelah mereka, lalu masuk yang lainnya. Abu Bakar sendiri kemudian berhasil mengislamkan beberapa orang teman dekatnya, seperti, Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Sa'ad bin Abi Waqqas, dan Thalhah bin Ubaidillah. Dari dakwah yang masih rahasia ini, belasan orang telah masuk Islam. Sedangkan menurut sejarah Islam, putri Abu Bakar yaitu Aisyah adalah orang ke 21 atau 22 yang masuk Islam. Syaikh Al-Albani mengatakan: "Lelaki dewasa dan merdeka yang pertama kali beriman adalah Abu Bakar, dari kalangan anak-anak adalah Ali bin Abi Thalib,dari kalangan budak Zaid bin Haritsah.
Dakwah secara siriyyah ini dilakukan selama kurang lebih 3 tahun dan setelah orang Islam berjumlah 40 orang, maka turunlah ayat
     “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat
      [Asy-Syu’ara, 26:214]

dan juga pada ayat,
      “Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.Sesungguhnya kami memelihara kamu daripada (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan (kamu).
 [Al-Hijr ayat 15:94-95]

Yang termasuk As-Sabiqun Al-Awwalun adalah sebagai berikut:
        Khadijah binti Khuwailid
        Zaid bin Haritsah
        Ali bin Abi Thalib
        Abu Bakar Al-Shiddiq
        Bilal bin Rabah
        Ummu Aiman
        Hamzah bin Abdul Muthalib
        Abbas bin Abdul Muthalib
        Abdullah bin Abdul-Asad
        Ubay bin Kaab
        Abdullah bin Rawahah
        Abdullah bin Mas'ud
        Mus'ab bin Umair
        Mua'dz bin Jabal
        Aisyah
        Umar bin Khattab
        Utsman bin Affan
        Arwa' binti Kuraiz
        Zubair bin Awwam bin Khuwailid
        Abdurrahman bin Auf
        Sa'ad bin Abi Waqqas
        Thalhah bin Ubaidillah
        Abdullah bin Zubair
        Miqdad bin Aswad
        Utsman bin Mazh'un
        Said bin Zayd bin Amru
        Abu Ubaidah bin al-Jarrah
        Waraqah bin Naufal
        Abu Dzar Al-Ghiffari
        Umar bin Anbasah
        Sa’id bin Al-Ash
        Abu Salamah bin Abdul Asad
        Abu Abdillah al-Arqam bin Abi al-Arqam
        Muawiyah bin Abu Sufyan
        Yasir bin Amir
        Ammar bin Yasir
        Sumayyah binti Khayyat
        Amir bin Abdullah
        Ja'far bin Abi Thalib
        Khabbab bin 'Art
        Ubaidah bin Harits
        Ummu al-Fadl Lubaba
        Shafiyyah
        Asma' binti Abu Bakr
        Fatimah bin Khattab
        Suhayb Ar-Rummi
Khadijah, Zaid bin Haritsah, Ali bin Abi Thalib, Abu Bakar Al-Shiddiq, Ummu Aiman, dan Bilal bin Rabah, merekalah orang yang pertama kalinya mengucap kalimat dua syahadat, lalu menyebar ke yang lainnya. Kesemuanya berasal dari kabilah Quraisy, kecuali Bilal bin Rabah.
Pada awalnya golongan ini hanya terdiri dari kaum miskin dan lemah, kemudian setelah menempuh waktu semakin bertambah dan masuk beberapa orang dari lapisan golongan masyarakat, yang terdiri dari pemuka adat, pemimpin suku, panglima perang, ibu rumah tangga, anak-anak, majikan, saudagar,pengusaha, pedagang, petani, peternak binatang, pelayan rumah tangga, orang merdeka, budak.
Tugas As-Sabiqun al-Awwalun yang Salaf, memiliki beberapa tugas penting yang harus diemban mereka. Tugas itu meliputi:
1.              Bertauhid (mengesakan Allah),
2.              Beriman kepada malaikat, rasul, kitab-kitab, takdir
3.              Menegakkan salat,
4.              Menunaikan zakat,
5.              Melakukan keadilan,
6.              Melakukan amal kebaikan,
7.              Meninggalkan kekejian,
8.              Meninggalkan kemungkaran,
9.              Meninggalkan kezaliman,
10.          meninggalkan penyembahan berhala,
11.          Berhala harus dihancurkan,
12.          Melarang kemusyrikan,
13.          Darah tidak ditumpahkan,
14.          Tak ada jiwa yang dibunuh kecuali krn kebenaran,
15.          Jalan-jalan tetap aman,
16.          Tali silaturahmi terus dijalin,
17.          Menjunjung kemerdekaan manusia,
18.          Mencegah keburukan,
19.          Mempertahanan bela agama,
20.          Menyebarkan secara diam-diam agama yang dibawa oleh Muhammad.

Menurut kepercayaan Islam, As-Sabiqun al-Awwalun akan mempunyai tempat tinggal yang mulia, Surga Jannatun Na'im.
      “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar
[At-Taubah ayat 9:100]
 Diperkuat oleh dalam hadits mutawatir yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari tentang tiga masa yang mendapatkan kemulian dan keutamaan muslim dan lain-lainnya, dimana Muhammad bersabda
 “Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian generasi setelahnya, kemudian generasi setelahnya.”
Menurut beberapa hadits yang shahih, agama Islam dikatakan pertama kali muncul dalam keadaan terasing, kemudian akan kembali menjadi asing sebagaimana semula ajaran Islam itu datang. Sementara itu orang disekelilingnya telah menjadi rusak secara aqidah dan mereka akan memusuhi ajaran Islam itu sendiri.
Pernyataan didasari beberapa hadits berikut dibawah ini:
Muhammad bersabda, "Sesungguhnya Islam pertama kali muncul dalam keadaaan  asing dan nanti akan kembali asing sebagaimana semula. Maka berbahagialah orang-orang yang asing (alghuroba')."
  "Berbahagialah orang-orang yang asing (alghuroba'). (Mereka adalah) orang-orang shalih yang berada di tengah orang-orang yang berperangai buruk dan orang yang memusuhinya lebih banyak daripada yang mengikuti mereka."
  "Berbahagialah orang-orang yang asing (alghuroba'). Yaitu mereka yang mengadakan perbaikan (ishlah) ketika manusia rusak."

Diperoleh dari
"http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pemeluk_Islam_pertama&oldid=3821691"

Wednesday, June 29, 2011

Keluhan Rindu Nabi Muhammad S.A.W


Berkongsi sebuah kisah yang sangat-sangat menyedarkan saya betapa bersyukurnya saya berada di zaman yang hampir-hampir sahaja sama seperti zaman jahiliyyah dahulu......terima kasih Muhammad kerana kepercayaan dan kasih sayang mu yang tidak berbelah bagi kepada umatmu....

Suasana di majlis pertemuan itu hening sejenak. Semua yang hadir diam membatu. Mereka seperti sedang memikirkan sesuatu. Lebih-lebih lagi Saidina Abu Bakar.
Itulah pertama kali dia mendengar orang yang sangat dikasihi melafazkan pengakuan demikian.
Seulas senyuman yang sedia terukir dibibirnya pun terungkai.
Wajahnya yang tenang berubah warna.
"Apakah maksudmu berkata demikian wahai Rasulullah? Bukankah kami ini saudara-saudaramu? " Saidina Abu Bakar bertanya melepaskan gumpalan teka-teki yang mula menyerabut fikiran.
"Tidak, wahai Abu Bakar. Kamu semua adalah sahabat-sahabatku tetapi bukan saudara-saudaraku (ikhwan)," suara Rasulullah bernada rendah.
"Kami juga ikhwanmu, wahai Rasulullah," kata seorang sahabat yang lain pula.
Rasulullah menggeleng-gelangkan kepalanya perlahan-lahan sambil tersenyum.
Kemudian baginda bersuara, "Saudaraku ialah mereka yang belum pernah melihatku tetapi mereka beriman denganku sebagai Rasulullah dan mereka sangat mencintaiku. Malahan kecintaan mereka kepadaku melebihi cinta mereka kepada anak-anak dan orang tua mereka."

Pada ketika yang lain pula, Rasulullah menceritakan tentang keimanan 'ikhwan' baginda: "Siapakah yang paling ajaib imannya?" tanya Rasulullah.
"Malaikat," jawab sahabat.
"Bagaimana para malaikat tidak beriman kepada Allah sedangkan mereka sentiasa hampir dengan Allah," jelas Rasulullah.
Para sahabat terdiam seketika. Kemudian mereka berkata lagi, "Para nabi."
"Bagaimana para nabi tidak beriman, sedangkan wahyu diturunkan kepada mereka."
"Mungkin kami," celah seorang sahabat.
"Bagaimana kamu tidak beriman sedangkan aku berada ditengah-tengah kau," pintas Rasulullah menyangkal hujah sahabatnya itu.
"Kalau begitu, hanya Allah dan Rasul-Nya sahaja yang lebih mengetahui," jawab seorang sahabat lagi, mengakui kelemahan mereka.
"Kalau kamu ingin tahu siapa mereka? Mereka ialah umatku yang hidup selepasku. Mereka membaca Al Quran dan beriman dengan semua isinya. Berbahagialah orang yang dapat berjumpa dan beriman denganku. Dan tujuh kali lebih berbahagia orang yang beriman denganku tetapi tidak pernah berjumpa denganku," jelas Rasulullah.
 "Aku sungguh rindu hendak bertemu dengan mereka," ucap Rasulullah lagi setelah seketika membisu.
Ada berbaur kesayuan pada ucapannya itu....

Friday, March 4, 2011

Hargai Diri


Hari pertama menghadiri NLP (Neuro Linguistic Programming) sudah banyak memberikan input-input yang dapat digunakan bukan sahaja dalam diri sendiri, malah untuk keluarga, dan di tempat kerja.

Antara topik yang saya ingin kupaskan disini adalah mengenai ‘penghargaan diri’. Di mana saya sendiri akui, diri saya sendiri sudah lama tidak menerima penghargaan (acknowledgment) dari diri saya sendiri.

Persoalan yang sama ingin saya lontarkan kepada pembaca sekalian.
Bilakah kali terakhir kamu memberikan penghargaan kepada diri kamu sendiri? 

Bagi saya-entah bila, tak tercongak tahunnya.


Setiap manusia punyai matlamat hidup. Ada yang besar ada yang kecil. Ada yang dapat dicapai atau peroleh dalam jangka masa yang panjang, ada yang dapat diperoleh dalam jangka masa pendek. Dan apabila diri masing-masing mempunyai matlamat hidup, pastilah akan terselit gerak hati atau niat untuk mencapai matlamat tersebut. Mungkin tanpa kita sedari, walaupun mungkin kita masih belum mencapai matlamat tersebut, tapi kita ada menyumbang untuk mendekati dan menghampiri matlamat itu samada kita sedari atau tidak. Jadi, selain daripada mendapat penghargaan atau perhatian orang sekeliling kita, adalah lebih baik jika kita memberi penghargaan kepada diri kita sendiri.

Apa pentingnya penghargaan diri sendiri ini?
Memang benar, kita secara semulajadinya menyukai perhatian atau penghargaan dari orang lain untuk membuatkan diri kita terasa dihargai. Tetapi, sedari atau tidak, menghargai diri sendiri adalah lebih telus dan ia dapat meningkatkan semangat kita sendiri.

Kita sering melihat segelas cawan itu separuh kosong lalui menghukum atau menilai kemampuan diri di tahap yang rendah dan melabelkan diri sendiri lemah dan tidak berupaya. Tetapi, mengapa kita tidak melihat gelas tersebut separuh penuh?



Lihatlah apa yang setakat ini yang kamu telah lakukan untuk mencapai ke arah matlamat yang kamu tanamkan pada diri kamu masing-masing?

Lihatlah apa kejayaan dan kemampuan diri yang telah kamu sumbangkan ke arah kejayaan menuju ke matlamat yang kamu idamkan?

Lihatlah apa langkah-langkah yang telah kamu lakukan untuk maju kehadapan setapak demi setapak?




Apabila perkara-perkara kecil itu dihubungkan, subhanallah, ia akan berfungsi sebagai seperti bahan api yang membakar keyakinan diri dan membawa kamu terus maju dengan lebih pantas.

Berkongsilah penghargaan diri ini dengan sahabat-sahabat yang dapat mendengar kisah ini tanpa menilai kamu (secara peribadi mahupun secara luaran kamu) dan dapat juga menghargai kamu. Ketahuilah, berkongsi kisah-kisah kejayaan ini akan dapat memulihkan kembali semangat kamu yang mungkin telah pudar dan merundum.

Juga, jangan lokek dan segan untuk menghargai sahabat-sahabat kamu yang lain walau pun sekecil mana sumbangan dan pengorbanan yang telah mereka lakukan kearah menuju matlamat yang sama atau yang berbeza dari kamu, asalkan ia berupa kebaikan dan berdasarkan lillahita’ala semata. Lihatlah kejayaan mereka tanpa bersikap prejudis atau iri hati. Sedar atau tidak , ia adalah hadiah terbaik yang kamu dapat berikan kepada orang lain sebagai satu balasan kepada kepercayaan dan kejujuran mereka berkongsi kisah mereka dengan kamu…

Dan pastinya, kepada Allah kita sama-sama berterima kasih kerana memberi kita masa dan tempoh untuk mendekatkan diri padaNya dan diberikan kita ilmu dan upaya untuk melakukan langkah-langkah tersebut.

Segala puji bagi Allah yang memiliki apa yang di langit dan apa yang di bumi dan bagi-Nya (pula) segala puji di akhirat. Dan Dia-lah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.
[Saba':1]


Selamat menghargai diri kalian masing-masing!


Thursday, February 24, 2011

Talk to your loved ones!


In pursuing my write up on Great Relationship (be it lovers, married couples, friends, family, peers, subordinates, neighbors or even our society), I find communication is the most vital role towards other constituents such as honesty, steadfast, ingenuous, thankful, apprize, compliments, body language, tolerance, etc.

I will write more about this in the future as I too am still founding a good to great relationship with my loved ones. Nonetheless, I wanted to share a simple tip to all of my FB friends here.



See, once you have devoted your selection of loved ones, the first thing you ought to do is to TALK! Talk to them!

If not every day, the least is every week. There's no such thing as 'although I didn’t contact you, I do care' bull. When a person says that, he/she knows they have missed out the moment or time to be able to commit to you. So TALK! 

One of the simplest thing to do yet I find it VERY helpful upon improving our relationship with our loved ones is by the time your head hit’s the pillow and lights go out and you are ready to sleep.

That is another moment you need to tell your loved ones another “I Love you”!

Yes. The 3 cliché words again and again. But I find it very soothing to know a person thought of us before they end their day to start another day tomorrow.

Try it. I believe it works.



Till then. We'll talk about this more sum other time. T.C.


Wednesday, January 19, 2011

Muslim Princess and Queens

Here's the list of Muslim princesses and queens all over the world. Enjoy!!



Sunday, December 26, 2010

My Friend Who Doesn’t Believe In God

I talked to a friend of mine yesterday. He has a religion, but I’d rather not mention what his religion is. He had told me before that he’s not practicing his religion, but only yesterday I found out that he doesn’t believe in the hereafter. Meaning-he doesn’t believe there’s heaven and hell, and he believes that when people die, life ends. That’s it.

I was dismayed to be honest. Its common to know those who don’t believe in God. But to know that there’s people who believes there’s no judgment after death is simply staggering to me.
So then the chat continues. He believes that whoever committed sins/wrongdoer and gets away from being arrested or being punish in this world is simply lucky. That’s it.

And he even said that he thinks people who told themselves “those wrongdoer that got away from being punish in this world will be punished in the hereafter” is simply making themselves assured that the wrongdoer will somehow be punished even not in this world. In which people connoted this to comfort them. As people by nature are incline to accept the fact that the sinners are not going to be punished in the hereafter. That’s it. That’s his theory.

I do still respect him as a friend. Infact, although he said he’s not practicing his religion, but he walks almost exactly what God commanded people to do. He said, its simply a moral of a person to act good or bad. Not because he knows there’s someone judging him, but he knows what will make him feel good or guilty after performing an action.

But that’s the whole point doesn’t it? In contrary, the reason why people feel satisfied or guilty after doing something is because there’s right and wrong in doing things. And what insinuates the right and wrong is simply because there’s a measurement or a weightage for the action. And from this right and wrong will then shows the result. From this result, a reward or penalty will come into picture. That’s a simple fact. A simple convention in our life. Just like the entailing ying and yang concept about all forces are interconnected and interdependent in the natural world.

I didn’t argue with him much. As I said, from knowing him, he is naturally a good person practicing the acts of what a religion requires from the followers. He’s just not aware of it. I told him, in Islam too, God never anticipated that ONLY MUSLIM is granted to go to heaven. Having a religion is not a ticket to heaven.There are a lot more than just having our religion printed in our birth certificates. More than just believing. More than just having faith. It’s a lot more that that.
God knows. God sees.
And I wont be surprised if somehow he’ll end up in heaven after he dies.

I told him although he doesn’t believe in hell and heaven, but I will see him in the hereafter after he dies and be the person to say “ I told you so”.
At least he has something to look forward to when he dies than believing nothing happens.




Dec 26th,2010
0055hrs

Wednesday, December 22, 2010

Syukur Allah Atas Musibah Ini

“Again? Why God? Why do I have to go through these obstacles endlessly?” itulah soalan pertama yang Chrysalis sering ajukan pada Allah bila saja satu musibah berlaku. Tak disedari soalan biadap ini mudah sahaja dilontarkan tanpa segan silu pada sang pencipta. Chrysalis pasti para pembaca juga pasti pernah mengutarakan persoalan yang sama pada Dia.

Penulisan kali ini banyak dikupaskan melalui penulisan-penulisan yang excellent dari majalah Solusi yang menjadikan ‘Musibah’ sebagai topik di keluarannya. Lalu Chrysalis membandingkan kupasan-kupasan penulisan-penulisan itu dalam riwayat tahun 1431H dimana Chrysalis melabelkan sebagai tahun getir dan perit selama tempoh probation dalam menjalankan 42:13 hampir lebih kurang 4 tahun kini الحمد لله.
Dari awal tahun mula Januari hingga ke penghujung Zulhijjah, kalau bisa dicuci cetak gambar-gambar waktu Chrysalis lalui perit-perit itu, mungkin mampu untuk menggambarkan betapa merundumnya perjalanan Chrysalis. Mungkin mampu untuk menceritakan secara terperinci apa yang Chrysalis lalui dalam proses cuba menjalani hidup sebagai seorang makhluk yang dipanggil insan, sebagai seorang makhluk yang dipandang insan oleh Allah. Subhanallah. Benarlah kata-kataMu:

Dia mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi dan mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan yang kamu nyatakan. Dan Allah Maha Mengetahui segala isi hati.
[At Taghaabun:4]

Cuma setelah meneliti penulisan-penulisan tersebut membuat Chrysalis kembali berfikir. Persoalan-persoalan ini diajukan kepada Chrysalis sendiri, dan juga elok untuk sama-sama kita fikirkan sejenak:-
1) Apakah weightage (minimum requirement) manusia melabelkan ketentuan-ketentuanNya sebagai musibah? Dan apakah pula weightage (minimum requirement) manusia untuk menkategorikan ketentuan-ketentuan itu sebagai tuah (good news or a gift)?
2) Apakah manusia dapat memikirkan ending plot atas musibah-musibah itu waktu sedang bergelut getir menempuhinya?

Disini, sekali lagi Chrysalis memeriksa internal hardisk Chrysalis yang menyimpan data-data kronologi ‘peristiwa getir’ di dalam otak fikiran Chrysalis. Nyatanya waktu menghadapi ketentuan-ketentuan itu Chrysalis terus menyalahkan Allah 100%. Nyata.

Dan tidak banyak atau boleh dikatakan sangat kabur (vague) internal hardisk Chrysalis yang menyimpan data-data kronologi- ‘peristiwa tuah’ di dalam otak fikiran Chrysalis. Lalu apa maksud ini?

Nyatanya manusia tend to keep all the bad memories deeply no matter how small we encounter the incidences. Dan manusia tend not to keep most good memories especially the small matters.
Namun ini tidaklah menjadi satu permasalahan bagi Chrysalis. Insyallah di penulisan akan datang Chrysalis akan membentangkan lebih lanjut tentang rencana mengapa manusia tend to keep bad memories and tend to forget/forego good memories especially the small ones.

Di penulisan ini Chrysalis ingin berhikayat tentang musibah. Yang menurut penulis-penulis di majalah itu musibah adalah sebenarnya satu ketentuan (fate/destine). Bukan musibah.
Kerana manusialah yang mengukur atau memberi weightage samada ketentuan yang diberikan oleh Nya adalah musibah atau tuah. Ini jawapan kepada persoalan pertama di atas.

Dan ya, menjawab persoalan kedua yang Chrysalis ajukan diatas, memang manusia amat payah untuk memikirkan relevan sesuatu ketentuan ketika detik manusia itu melalui ketentuan itu. Dan ya kini setelah ‘peristiwa-peristiwa getir’ itu Chrysalis lalui, barulah dapat Chrysalis memahami relevan mengapa si Dia memberikan ketentuan itu kepada Chrysalis.

Awal tahun ini Chrysalis lalui bermacam-macam peristiwa yang boleh dikategorikan sebagai sejarah-sejarah hitam Chrysalis dalam perjalanan 4 tahun ini. Peluru-peluru dari pihak keluarga, dia, kerja dan tuntutan hati dari perjuangan Chrysalis - bertalu-talu menembusi diri. Tak terkira berapa banyak air mata dilaburkan, tak terhitung berapa banyak caci-maki kepadaNya dihamburkan. Dan dalam menempuh peristiwa-peristiwa itu, tidak sedikit pun Chrysalis dapat memikirkan what is the significance? Tidak dapat langsung.

Pertama-Apa yang Chrysalis hanya dapat simpulkan pada waktu-waktu murung tersebut hanyalah mengandaikan bahawa apa yang berlaku itu adalah atas kesilapan Chrysalis atau orang-orang disekeliling sendiri, Chrysalis membuat andaian ‘peristiwa-peristiwa getir’itu adalah sebagai salah satu hukuman Dia pada Chrysalis. Ya barangkali. Ini adalah teori pertama Chrysalis. Tetapi ada lagi sebabnya mengapa Allah memberikan ketentuan-ketentuan tersebut.

Kedua - *Ketentuan/ujian (tuah/musibah), yang dikategorikan sebagai Kafarah. Dimana ia diberikan kepada manusia yang melakukan kejahatan dan pada yang sama juga melakukan kebaikan. Kafarah ini adalah bertujuan untuk menguji manusia tersebut dan meningkatkan darjatnya sebagai seorang mukmin.
*Rujuk Solusi 15048/05/2010 untuk mengetahui kategori-kategori ketentuan/ujian.
I totally agree with this actually.Mudah. Test=ujian. Penentunya samada manusia itu lulus atau gagal dalam menghadapi ujian tersebut.Cuma....jarang sekali manusia tahu ini adalah apa yang Allah aturkan untuk kita manusia. Payah sekali manusia yang sedang lalui kepayahan/kegetiran/kesedihan akibat ketentuan-ketentuanNya dapat sedar betapa agungnya rancangan Allah. God really works in a mysterious way we can NEVER perceive of. Never!

Ketiga-Ia mematangkan dan menguatkan kita untuk menghadapi ketentuan-ketentuan akan datang.
Benar. Ini juga antara salah satu teori Chrysalis. Mengapa Chrysalis berteori begitu? Kerana apa yang Chrysalis tempohi dapat Chrysalis paparkan sepenuhnya dihadapan otak fikiran Chrysalis. Dan Chrysalis membuat perbandingan ringkas bagaimana reaksi, respond, langkah, pemikiran dan keputusan yang Chrysalis lakukan sebelum ini dengan bagaimana diri Chrysalis kini apabila melalui lebih kurang sama ketentuan-ketentuanNya.

Ya, Dia benar-benar memberikan pelajaran kepada manusia yang sedang menggesot untuk berdiri., Dia benar-benar mentatih manusia yang sedang merangkak-rangkak meraba dalam kekaburan
Apabila lebih kurang sama ketentuan-ketentuan yang Chrysalis terima kini dengan ketentuan-ketentuan dulu, ia bagaikan sebuah ‘light bulb’. Satu prompting of my history of how I dealt with it for the first time. Kini Chrysalis bisa tersenyum malah acuh tidak acuh bila berhadapan dengan situasi sebegitu.

Dan kesimpulan dari penulisan ini, pasti ramai yang masih punya mentaliti untuk berprinsip bahawa ‘orang beriman itu pasti tertindas’. Dimana ketentuan-ketentuan yang dikategorikan sebagai musibah dianggap sebagai norma dan satu kepastian. Sesuatu yang orang beriman pasti hadapi.
Hari ini Chrysalis ingin membangkah sekeras-kerasnya kenyataan ini.
Dan hari ini juga Chrysalis memohon pada yang Esa supaya diangkut terus penyataan ini dari minda dan akal fikiran pembaca.

Nyatanya orang yang beriman itu pasti tidak akan merasa tertindas sekiranya apa yang dilakukannya dalam kehidupannya lillahitaa’ala semata.
Nyatanya orang yang beriman jika ikhlas perbuatannya, jika ikhlas langkah dan keputusan yang dibuatnya kerana Allah tidak mungkin langsung akan memikirkan dirinya tertindas.
Kerana orang beriman itu pastinya sudah mengerti binayah Allah pada umatNya:
Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.
[Al Kahfi:28]

Barangsiapa yang mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah itu, pasti datang. Dan Dialah Yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.
[Al 'Ankabuut:5]

Yang dapat Chrysalis nyatakan hari ini padaNya hanyalah Terima kasih syukur dan alhamdulillah Ya Allah kerana memberikan Chrysalis musibah-musibah ini. Andaikata tidak ada musibah dalam hidup kita di dunia ini, tentu kita nanti datang pada hari kiamat tanpa membawa pahala.

….Orang yang sabar itu diganjari dengan pahala tanpa hisab
[Al Zumar:10]

Rasulullah bersabda,
“Perumpamaan orang yang beriman apabila ditimpa ujian, bagai besi yang dimasukkan ke dalam api, lalu hilanglah karatnya dan tinggallah baiknya”

Moga penulisan kali ini dapat sedikit sebanyak menggerakkan minda dan akal pembaca untuk menjadi insan yang lebih baik dalam menghadapi kehidupan berdaulah dengan fitrah manusia yang mutlak, berpaksikan Al-Quran dan Sunnah Rasul-Nya.



Mula tulis:   November 2010/Zulhijjah 1431H
Tamat tulis: December 2010/Muharram 1432H